STRATEGI PEMBERANTASAN BUTA BACA AL QUR'AN MELALUI PROGRAM MENGAJI DALAM KEGIATAN KUKERTA (KKN) DI KAMPUNG MUNJUL

 STRATEGI PEMBERANTASAN BUTA BACA AL QUR'AN MELALUI PROGRAM MENGAJI DALAM KEGIATAN KUKERTA (KKN) DI KAMPUNG MUNJUL

Rahmadea Novriana 

UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, Indonesia 

Jl. Lintas Jambi-Muara Bulian KM. 16, Simpang Sungai Duren, Kab. Muaro Jambi, 36361

Email : rahmadea246@gmail.com 


       Kukerta atau biasa di kenal dengan istilah (KKN) adalah sebuah bentuk pengabdian mahasiswa di Universitas di lingkungan sosial masyarakat. Tujuan dari kegiatan ataupun program ini adalah mengupayakan adanya peningkatan pada aspek budaya, kehidupan sosial juga aspek akademisi di lingkungan masyarakat. Melalui KKN ini, mahasiswa nantinya tidak hanya menguasai aspek keilmuan secara teori saja akan tetapi mampu mengaplikasikan dan mempraktikkan apa yang mereka dapat selama mereka berada di bangku perkuliahan di lingkungan masyarakat. Dengan demikian nantinya mahasiswa mampu menjadi agen perubahan yang akan menghadapi tantangan-tantangan yang ada di lingkungan sosial bermasyarakat. 

Sebagai alasan utama saya memilih Kukerta (Mandiri) yang terjun langsung ke kampung - kampung maupun desa adalah karna kampung atau desa adalah tempat belajar yang kaya akan permasalahan nyata yang bisa dikembangkan. Maka dari itu akhirnya saya memilih kampung sendiri sebagai tempat saya menjalankan Kukerta ini. Karna saya besar dan tumbuh di sana, jadi saya dapat mengetahui permasalahan apa saja yang terjadi di sana. 

Kampung Munjul, RT 15, Kelurahan Kasang Jaya, Kecamatan Jambi Timur adalah tempat saya mendedikasikan diri selama lebih dari 45 hari. Dimulai dari tanggal 7 Juli saya menyerahkan surat pengantar Kukerta kepada ketua RT setempat yaitu bapak Ahmad Riyadi, S. Pd. Program yang saya bawa ke sana ada beberapa. Mulai dari pemberantasan buta baca Qur'an, kelas tahfidz dan hapalan doa-doa pendek. Namun hal itu tidak membatasi peran saya dalam mengabdikan diri saya disana. 

   Banyak beberapa persoalan yang sebenarnya tidak ada di dalam proker saya tetap saya bantu jalankan. Contohnya, membantu melatih ibu-ibu dalam persiapan mengikuti lomba rebana, membatu menyiapkan MTQ karna kebetulan RT 15 mendapatkan kesempatan mengisi acara, ikut serta dalam pemberian motivasi para pemuda yang mengikuti lomba kompangan dan masih banyak lagi. 

Gambar 1. Penyerahan Surat Pengantar Kukerta 

Latar Belakang dan Tujuan

Langgar As-Sholihin saya pilih sebagai lokasi saya menjalankan program selama Kukerta berlangsung. Alasannya adalah karna saya ingin meniru Nabi yang menjadikan masjid sebagai pusat pendidikan. Langgar As-Sholihin ini terletak di antara RT 15 dan RT 05. Dikepalai oleh bapak Dong yang rumahnya tidak jauh dari lokasi langgar berada. Tempat pengajian yang berlangsung selama lebih dari satu bulan itu akhirnya diberi nama, pengajian silaturahmi Langgar As-Sholihin. 

Gambar 2. Langgar As-Sholihin 

    Tujuan utama dari program ini adalah memberantas buta baca Al Qur'an pada masyarakat kampung Munjul. Dengan detail program, pengenalan huruf Hijaiyah, kelas tajwid dan kelas Tahfidz. Diharapkan dengan keseluruhan program saya ini, masyarakat kampung Munjul mulai dari anak-anak hingga dewasa mampu memahami hukum bacaan Al Qur'an itu sendiri bukan hanya sekedar tau membacanya saja. 


Program Kerja yang Dilaksanakan 

Ada beberapa program yang di lakukan walau fokusnya hanya dibidang baca Qur'an. Yang kemudian di satukan dalam sebutan Mengajar Mengaji.

1. Pengenalan Huruf Hijaiyah 

Program ini ditujukan kepada anak-anak maupun orang tua yang sama sekali tidak bisa membaca (buta) huruf Hijaiyah. Kegiatan pelaksanaannya 5 kali dalam seminggu yang berlokasikan di langgar As-Sholihin setelah Maghrib. Fokus program nya tentu berpusat pada pengenalan anak-anak agar mereka hapal dan tau dengan huruf-huruf Hijaiyah tersebut. Media yang saya pakai mulai dari papan tulis interaktif hingga poster menarik yang saya tunjukkan melalui Tab. 

Gambar 3. Pengenalan Huruf Hijaiyah 


2. Kelas Tajwid dan Fashoha Huruf 

Pelaksanaannya di lakukan langsung selama 15 menit sesudah sesi mengaji selesai di lakukan. Yang saya ajarkan adalah tajwid sederhana seperti Mad, idgham, qolqolah dan Iqlab. Untuk fashoha huruf saya praktikan langsung agar anak-anak lebih mudah memahami.

3. Kelas Tahfidz 

Untuk program ini sasarannya di tujukan pada anak-anak yang memang sudah lancar membaca Al-Qur'an. Di laksanakan setiap malam Jum'at Ba'da Maghrib sampai memasuki waktu isya. Pada proses setoran hapalan, saya kembali mengingatkan jika ada hukum tajwid yang meleset dan sifat huruf yang kurang tepat. 

4. Lomba Hifzhil Qur'an 

Kegiatan ini sebenarnya bukan termasuk kedalam Program Kukerta. Kegiatan ini merupakan kegiatan penutupan KKN yang di laksanakan di kampung Munjul. Yang mana anak-anak pengajian silaturahmi Langgar As-Sholihin diikutsertakan kedalam lomba Hifzhil Qur'an yang dilangsungkan pada tanggal 23 Agustus 2025 pada pukul 14:00 - 16:00. Hal ini merupakan sedikit bentuk apresiasi saya terhadap mereka yang sudah semangat dalam belajar mengaji selama satu bulan penuh ini. 

Gambar 4. Perlombaan Hifzhil Qur'an 


Cerita Selama Kukerta 

Pada Minggu pertama saya sedikit sedih dan berkecil hati. Karna waktu itu, murid mengaji nya hanya satu orang. Lalu keesokan harinya kosong. Saya sempat merasa putus asa. Akan tetapi saya tidak ingin menjadikan hal itu sebagai pemata semangat saya dalam mengajar. Dan lambat laun, yang awal nya hanya satu orang, bertambah menjadi 2, menjadi 4 dan akhirnya lebih dari 10 anak. 

Dalam proses mengajar, ada banyak pengalaman yang bisa di ambil. Mulai dari sikap guru selama mengajar menentukan kelancaran dalam proses mengaji. Karna mereka sendiri yang mengakui jika pernah mengaji di tempat yang keras watak guru dan cara mengajarnya, membuat mereka merasa takut dan akhirnya memilih untuk berhenti mengaji. Dan pada akhirnya saya tidak memilih metode mengajar yang seperti itu. Sehingga mereka bisa merasa nyaman dan akhirnya mudah memahami apa yang saya ajarkan.


Tantangan Dilapangan 

Selama menjalankan Kukerta di kampung Munjul Dnegan beberapa program yang saya bawa, saya tidak menemui kendala ataupun tantangan yang serius. Hanya saja, waktu Kukerta yang singkat membuat beberapa tujuan dari program kurang maksimal untuk di capai. 

Untuk semangat belajar anak-anak yang naik turun, sebenarnya saya tidak menjadikan hal itu sebagai tantangan. Karna hal itu lumrah, maka dari itu saya sering membawakan cerita dari pengalaman pribadi saya dengan di selipi canda tawa agar mereka bisa kembali termotivasi. Tak jarang juga saya sering membagikan Snack gratis dan membuat games kecil sehingga dengan hal itu, semangat mengaji mereka bisa kembali naik.

Gambar 5. Pemberian Hadiah 


Dampak dan Manfaat 

Ada banyak manfaat walaupun program Kukerta saya hanya berfokus pada satu bidang saja. Salah satu dampak terbesar yang dapat di rasakan, bacaan mereka Alhamdulillah sudah mulai sesuai dengan panduan. Tajwidnya benar dan penyebutan Huruf nya sudah mulai sempurna. Hal ini sempat di akui oleh Ketua Lembaga Adat Melayu Kasang Jaya sendiri pada saat pemberian kata sambutan di acara lomba Hifzhil Qur'an.

Pada kelas Tahfidz, walau hanya dalam waktu 45 hari, mereka banyak menyetorkan hapalan karna setiap berhasil menghapal satu surah, mereka saya berikan hadiah kecil-kecilan. Hal itu yang membuat mereka semangat menghapal. Ada salah satu anak bahkan sudah sampai di surah Ad-Dhuha.

Manfaat lain yang dirasakan, sebelum ada program ini mereka biasanya menghabiskan waktu setelah Maghrib dengan bermain ponsel atau kegiatan lain yang tidak membawa manfaat. Namun setelah diberdayakan program mengaji ini, mereka jadi punya kegiatan yang membawa banyak manfaat di hidup mereka.


Penutup 

Pelaksanaan Kukerta Mandiri di kampung Munjul RT 15 Kelurahan Kasang Jaya Kecamatan Jambi Timur selama 45 hari ini telah memberikan saya banyak sekali pengalaman yang kemudian bisa saya jadikan pelajaran. Dengan program yang saya bawa ini, banyak memberikan dampak dan manfaat yang positif bagi anak-anak yang ada di kampung Munjul. 

Mengenai kendala yang di hadapi hanya berupa kendala teknis. Mulai dari keterbatasan waktu dan semangat belajar anak-anak. Namun dengan dilakukannya pendekatan yang humanis dan menyenangkan, kendala bisa di atasi dengan baik. Hal ini menekankan akan pentingnya pembelajaran yang adaptif sesuai dengan kondisi masyarakat sosial.

Harapan kedepannya, program yang berjalan ini tidak berhenti setelah Kukerta berakhir. Melainkan bisa terus berlanjut Dnegan partisipasi dan kolaborasi antar Masya agar literasi Al-Qur'an di kampung Munjul bisa terjaga dan pada akhirnya dapat membentuk generasi yang Qur'ani dan berakhlak mulia.

Komentar

Postingan Populer